WILUJENG SUMPING..

DUH

Tampilkan postingan dengan label IN BOX Pa GURU SANCANG 2. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IN BOX Pa GURU SANCANG 2. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 November 2012

Pengertian Kurikulum



Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan. Penyusunan perangkat mata pelajaran ini disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan setiap jenjang pendidikan dalam penyelenggaraan pendidikan tersebut serta kebutuhan lapangan kerja<
Lama waktu dalam satu kurikulum biasanya disesuaikan dengan maksud dan tujuan dari sistem pendidikan yang dilaksanakan. Kurikulum ini dimaksudkan untuk dapat mengarahkan pendidikan menuju arah dan tujuan yang dimaksudkan dalam kegiatan pembelajaran secara menyeluruh.
Komponen Kurikulum
Salah satu fungsi kurikulum ialah sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan yang pada dasarnya kurikulum memiliki komponen pokok dan komponen penunjang yang saling berkaitan dan berinteraksi satu sama lainnya dalam rangka mencapai tujuan tersebut. Komponen merupakan satu sistem dari berbagai komponen yang saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya, sebab kalau satu komponen saja tidak ada atau tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Para ahli berbeda pendapat dalam menetapkan komponen-komponen kurikulum. Ada yang mengemukakan 5 komponen kurikulum dan ada yang mengemukakan hanya 4 komponen kurikulum. Untuk mengetahui pendapat para ahli mengenai komponen kurikulum berikut Subandiyah (1993: 4-6) mengemukakan ada 5 komponen kurikulum, yaitu: (1) komponen tujuan; (2) komponen isi/materi; (3) komponen media (sarana dan prasarana); (4) komponen strategi dan; (5) komponen proses belajar mengajar.
Sementara Soemanto (1982) mengemukakan ada 4 komponen kurikulum, yaitu: (1) Objective (tujuan); (2) Knowledges (isi atau materi); (3) School learning experiences (interaksi belajar mengajar di sekolah) dan; (4) Evaluation (penilaian). Pendapat tersebut diikuti oleh Nasution (1988), Fuaduddin dan Karya (1992), serta Nana Sudjana (1991: 21). Walaupun istilah komponen yang dikemukakan berbeda, namun pada intinya sama yakni: (1) Tujuan; (2) Isi dan struktur kurikulum; (3) Strategi pelaksanaan PBM (Proses Belajar Mengajar), dan: (4) Evaluasi.
Fungsi Kurikulum
Kurikulum dalam pendidikan memiliki beberapa fungsi sebagai berikut: A. Fungsi kurikulum dalam rangka mencapai tujuan pendididkan Fungsi kurikulum dalam pendidikan tidak lain merupakan alat untuk mencapai tujuan pendididkan.dalam hal ini, alat untuk menempa manusia yang diharapkan sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Pendidikan suatu bangsa dengan bangsa lain tidak akan sama karena setiap bangsa dan Negara mempunyai filsafat dan tujuan pendidikan tertentu yang dipengaruhi oleh berbagai segi, baik segi agama, idiologi, kebudayaan, maupun kebutuhan Negara itu sendiri. Dsdengan demikian, dinegara kita tidak sama dengan Negara-negara lain, untuk itu, maka: 1) Kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan nasional, 2) Kuriulum merupakan program yang harus dilaksanakan oleh guru dan murid dalam proses belajar mengajar, guna mencapai tujuan-tujuan itu, 3) kurikulum merupakan pedoman guru dan siswa agar terlaksana proses belajar mengajar dengan baik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.
B. Fungsi Kurikulum Bagi Sekolah yang Bersangkutan Kurikulum Bagi Sekolah yang Bersangkutan mempunyai fungsi sebagai berikut: 1) Sebagai alat mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan 2) Sebagai pedoman mengatur segala kegiatan sehari-hari di sekolah tersebut, fungsi ini meliputi: a. Jenis program pendidikan yang harus dilaksanakan b. Cara menyelenggarakan setiap jenis program pendidikan c. Orang yang bertanggung jawab dan melaksanakan program pendidikan.
C. Fungsi kurikulum yang ada di atasnya 1) Fungsi Kesinambungan Sekolah pada tingkat atasnya harus mengetahui kurikulum yang dipergunakan pada tingkat bawahnya sehingga dapat menyesuaikan kurikulm yang diselenggarakannya. 2) Fungsi Peniapan Tenaga Bilamana sekolah tertentu diberi wewenang mempersiapkan tenaga guru bagi sekolah yang memerlukan tenaga guru tadi, baik mengenai isi, organisasi, maupun cara mengajar.
D. Fungsi Kurikulum Bagi Guru Guru tidak hanya berfungsi sebagai pelaksana kurikulum sesuai dengan kurikulum yang berlaku, tetapi juga sebagai pengembanga kurikulum dalam rangaka pelaksanaan kurikulum tersebut.
E. Fungsi Kurikulum Bagi Kepala Sekolah Bagi kepala sekolah, kurikulum merupakan barometer atau alat pengukur keberhasilanprogram pendidikan di sekolah yang dipimpinnya. Kepala sekolah dituntut untuk menguasai dan mengontrol, apakah kcegiatan proses pendidikan yang dilaksanakan itu berpijak pada kurikulum yang berlaku.
F. Fungsi Kurikulum Bagi Pengawas (supervisor) Bagi para pengawas, fungsi kurikulum dapat dijadikan sebagai pedoman, patokan, atau ukuran dan menetapkan bagaimana yang memerlukan penyempurnaan atau perbaikan dalam usaha pelaksanaan kurikulum dan peningkatan mutu pendidikan.
G. Fungsi Kurikulum Bagi Masyarakat Melalui kurikulum sekolah yang bersangkutan, masyarakat bisa mengetahui apakah pengetahuan, sikap, dan nilaiserta keterampilan yang dibutuhkannya relevan atau tidak dengan kuri-kulum suatu sekolah.
H. Fungsi Kurikulum Bagi Pemakai Lulusan Instansi atau perusahaan yang memper-gunakan tenaga kerja yang baik dalamarti kuantitas dan kualitas agar dapat meningkatkan produk-tivitas.
sumber: http://www.kabar-pendidikan.blogspot.com/2011/04/pengertian-kurikulum.html

Rabu, 21 November 2012

Langkah-langkah Mengatasi Kesulitan Belajar

Langkah-langkah dalam pemecahan kesulitan belajar menurut Koestoer Partowisastro dalam bukunya “Diagnosa dan pemecahan kesulitan belajar” mengatakan sebagai berikut :
(1) Kegiatan membicarakan dengan Kepala Sekolah tentang adanya murid-murid yang bermasalah dan usaha yang perlu dilakukan berkenan dengan masalah-masalah tersebut.
(2) Kegiatan mengamati dan mencatat pola-pola tingkah laku murid yang sering muncul (berulang) menjadi petunjuk adanya masalah.
(3) Kegiatan mempelajari kembali “Commulative Record”.
(4) Berbicara dengan guru-guru lain.
(5) Kegiatan berkonsultasi dengan juru rawat.
(6) Kegiatan berwawancara dan menyuluhi murid yang bersangkutan.
(7) Kegiatan jika perlu, melakukan referial.

a. Berbicara dengan Kepala Sekolah
Kepala Sekolah adalah penanggung jawab keseluruhan kegiatan sekolah, termasuk kegiatan bimbingan dan penyuluhan. Oleh karena itu para petugas bimbingan guru dan penyuluh pendidikan melaporkan, berkonsultasi dan menerima nasehat dari kepala sekolah tentang berbagai kasus dan usaha menanggulanginya. Berkenan dengan murid-murid yang bermasalah, guru atau penyuluh pendidikan hendaknya membicarakan dengan kepala sekolah tentang berbagai usaha yang perlu dilakukan untuk menghadapi tingkah laku yang bermasalah itu, usaha-usaha menghubungi orang tua murid dan instansi-instansi lain yang dianggap perlu, menguraikan pandangan guru terhadap persoalan murid.

b. Pengamatan yang lebih mendalam
Pengamatan yang lebih mendalam diharapkan dapat memperoleh daftar tentang murid-murid yang mengalami masalah mungkin disusun berdasarkan atas hasil-hasil pengamatan yang kurang lengkap ataupun pandangan yang baru selintas saja. Dengan usaha ini mska catatan, tanggapan dan bahan-bahan yang amat berguna sebagai dasar pertimbangan yntuk menghadapi masalah itu mungkin lengkap dan mantap.

c. Mempelajari “Cummulative Record”
Dari mempelajari Cummulative Record ini diharapkan terkumpul catatan yang biasaya dapat diperoleh dari berbagai keterangan pokok yang mungkin bersangkut paut erat atau bahkan melatar belakangi masalah yang dialami murid. Guru atau penyuluh pendidikan harus mampu menarik sangkut paut dari yang terdapat didalam kumpulan catatan dapat saling lengkap melengkapi dengan apa yang diperoleh dari pengamatan. Dari kenyataan ini akan dapat diterbitkan pandangan atau gagasan baru, dan bahkan rencana atau ide untuk usaha lebih lanjut mengatasi masalah yang dihadapi murid.

d. Berbicara dengan guru-guru lain
Kegiatan bimbingan dan penyuluhan adalah kegiatan yang bersifat interdisipliner dan dilakukan secara bersama. Guru atau penyuluh pendidikan seorang diri (tanpa ikut sertanya staf yang lain) kemungkinan besar akan gagal membantu anak-anak yang bermasalah. Dalam hal ini tidak ada jalan lain kecuali setiap orang yang bertanggung jawab dalam membimbing anak harus mengambil manfaat dari bekerjasama dengan petugas yang lain. isi kerja sama ini selain dari segi pengumpulan informasi selengkap mungkin, juga dalam penyajian materi pemecahan masalah itu sendiri yang tidak kurang pentingnya dalam rangka kerja sama ini adalah penciptaan “Suasana Bimbingan” oleh seluruh petugas sekolah semua pihak hendaklah menyadari apa sebenarnya bimbingan dan penyuluhan itu sehingga masing-masing pihak dapat menjalankan peranannya dengan baik dalam rangka keseluruhan “Suasana Bimbingan” itu.

e. Berkonsultasi dengan juru rawat
Tujuan kegiatan ini terutama sekali adalah kesehatan murid. Guru atau penyuluh pendidikan dapat berwawancara dengan murid yang bersangkutan yang mengungkapkan sakit atau kecelakaan apa saja yang pernah dideritanya, kapan hal itu terjadi, bagaimana tingkat keparahannya, bagaimana usaha pengobatannya, tingkat kesembuhannya, keadaan kesehatan sekarang dan sebagainya. Hanya untuk kondisi kesehatan yang kelihatannya amat serius saja guru atau penyuluh pendidikan harus berusaha sekuat tenaga berkonsultasi dengan juru rawat atau dokter.

f. Memberi penyuluhan
Penyuluhan adalah suatu kegiatan yang khas dalam usaha bimbingan seorang anak yang mengalami masalah dihadapi langsung dengan tatap muka oleh penyuluh dalam rangka usaha pemecahan masalah yang sedang dihadapi anak itu. Suasana hubungan tatap muka inipun sifat khas pula yaitu suatu hubungan yang tidak terasa sedikitpun untuk unsur-unsur kekerasan atau paksaan, bebas dari rasa takut dan hawatir, saling mempercayai, terbuka dan terus terang, suka rela, saling memberi dan menerima. Suasana hubungan seperti itu disebut “Raport”. Sebelum usaha penyuluhan dilanjutkan hendaknya terlebih dahulu dibina “Raport” ini. Apabila Rapport telah tercipta maka hubungan berikutnya akan berjalan dengan lancar, mudah dan penuh arti. Satu suasana lain dari penyuluhan ini adalah bawa hubungan ini dilakukan tidak dimuka umum atau ditempat ramai. Melainkan ditempat yang terpisah sehingga baik anak maupun penyuluh dapat berbicara bebas. Sikap bijaksana yang diteliti dan berpandangan jauh akan mampu mendudukan persoalan sesuai dengan bobot dan arahnya penyuluhan seringkali merupakan kunci untuk menimbulkan kesadaran dan sikap terhadap diri sendiri, sekolah taman dan sebagainya.

g. Prosedur Referal
Di sekolah, pada taraf yang paling awal masalah yang dihadapi oleh murid-murid hendaknya diungkapkan oleh guru lain atau wali kelas, misalnya dengan jelas mengisi formulir/daftar, selanjutnya pada taraf pertama masih menjadi tugas guru atau wali kelas untuk sejauh mungkin menanggulangi masalah yang dihadapi oleh murid tersebut. Jika berbagai usaha yang dilakukan oleh guru/wali kelas yang kewalahan atau diperkirakan murid tersebut memerlukan bantuan khusus dari penyuluhan pendidikan yang ahli, maka guru atau wali kelas yang bersangkutan perlu “Mereferal” atau mengirim atau “Mengambil Alihkan” masalah yang dihadapi oleh murid itu kepada penyuluh pendidikan. Ini tidak berarti guru yang bersangkutan sekarang menjadi lepas tangan terhadap masalah itu. Melainkan sebaliknya guru dalam rangka kerja sama dengan penyuluh pendidikan tidak mungkin bekerja sendiri. Kesulitan belajar yang menyangkut bidang tertentu jelas harus ditanggulangi bertsama dengan guru bidang studi yang bersangkutan.

Minggu, 11 November 2012

Pengertian dan Teknik Evaluasi Belajar

1. Pengertian Evaluasi Belajar
Menurut Sudjana (1990:31) evaluasi adalah “proses pemberian atau menentukan nilai kepada objek tertentu berdasarkan suatu kriteria tertentu”. Sedangkan menurut Rusli (1990:22) bahwa yang dimaksud evaluasi adalah “suatu proses sistematik untuk menentukan sampai berapa jauh tujuan intruksional dapat dicapai oleh siswa”.
Dari uraian di atas maka evaluasi mengandung dua aspek yang penting yaitu:
a. Dalam evaluasi terdapat suatu proses sistematik untuk mengukur apakah siswa dapat mendiagnosa, menyeleksi dan menyelesaikan suatu pekerjaan.
b. Evaluasi digunakan untuk mengukur, menilai pencapaian tujuan dan keberhasilan dari kerja atau usaha guru.
Berdasarkan pengertian di atas maka pengertian evaluasi dan penilaian adalah istilah-istilah yang lebih luas artinya dari pada pengukuran. Evaluasi mencakup deskripsi kelakuan (behavior) siswa secara kualitatif maupun kuantitatif dan terhadap penilaian kelakuan tersebut. Sedangkan ukuran hanya terbatas pada aspek penilaian yang bersifat tetap dan kuantitatif.

2. Teknik Evaluasi Belajar
Teknik evaluasi adalah cara yang dilakukan dalam mengevaluasi hasil belajar. Sedangkan yang dimaksud evaluasi hasil belajar ekonomi adalah cara yang digunakan oleh guru dalam mengevaluasi proses hasil belajar mengajar studi ekonomi.
Menurut Bukhori dalam (Arikunto, 2002:32) “tes adalah suatu percobaan yang digunakan untuk mengetahui ada tidaknya hasil pelajaran tertentu pada seorang murid atau kelompok murid”.
Menurut Arikunto (2002:31) terdapat dua lat evaluasi yakni teknik tes dan non tes. Teknik tes menurut Indrakusuma dalam (Arikunto, 2002:32) adalah “suatu alat atau prosedur yang sistematis dan obyektif untuk memperoleh data-data atau keterangan-keterangan yang di inginkan seseorang dengan cara yang boleh dikatakan cepat dan tepat”.
Ditinjau dari segi kegunaan untuk mengukur siswa, maka dibedakan atas tiga macam tes, yakni tes formatif, dan tes sumatif (Arikunto, 2002:33). Tes yang baik harus memiliki veliditas, reabilitas, objektivitas, praktibilitas, dan ekonomis.
Sedangkan teknik evaluasi selanjutnya adalah teknik non tes, menurut Arikunto (2002:26) “teknik non tes meliputi skala bertingkat, kuisioner, daftar cocok, wawancara, pengamatan, dan riwayat hidup”.
Dari pengertian di atas yang dimaksud tes adalah cara penilaian yang komprehensif seseorang individu atau keseluruhan usaha evaluasi program atau tes merupakan suatu alat pengumpul informasi tetapi jika dibandingkan dengan alat-alat lain tes ini bersifat lebih resmi karena penuh dengan batasan-batasan.

Fungsi Pendidikan Bagi Orang Tua

Sebagai orang tua sudah semestinya memiliki tanggung jawab yang besar terhadap keluarga terlebih bagi putra-putriya. Keberadaan orang tua sangat berpengaruh besar terhadap proses perkembangan anaknya. Orang tua yang berpendidikan tinggi tentu akan berbeda cara membimbing anaknya dengan orang yang berpendidikan rendah. Orang tua yang berpendidikan rendah cenderung statis dan sulit untuk menerima perkembangan yang ada di lingkungannya. Sehingga pola pikir anak pun akan berpengaruh oleh lingkungan terdekatnya yaitu keluarga.

Mustofa Fahmy dalam buku Penyesuaian Diri mengemukakan: Pengaruh terpenting yang diterima oleh individu ketika ia masih kanak-kanak adalah yang datang dari keluarga, yaitu kelompok kecil yang melingkungnya
dan memelihara pada tahun pertama dari umurnya. Keluarga sebagai masyarakat kecil, merupakan suatu kesatuan yang hidup dan dinamis mempunyai fungsi yang bertujuan untuk membentuk pertumbuhan sosial anak. Tujuan tersebut tercapai pada permulaan melalui interaksi yang terjadi dalam keluarga yang memegang peranan penting dalam pembentukan kepribadian anak dan dalam mengarahkan kelakuan dan kemampuannya untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan luar (Mustofa Fahmy, 1983: 26).

Mansyur, dalam bukunya Mendidik Anak Sejak dalam Kandungan, beliau menyampaikan bahwa : Tingkat pendidikan itu sangat mempengaruhi segala sikap dan tindakan individu, sesuai dengan pembahasan ini bahwa ibu hamil dalam melaksanakan segala upaya akan sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan. Orang berpendidikan rendah setiap tindakannya kurang mempunyai dasar sehingga mudah dipengaruhi oleh orang lain dan ikut-ikutan. Lain dengan orang berpendidikan tinggi setiap langkah mantap, tenang dan tidak mudah dipengaruhi orang lain karena berdasarkan pengalaman-pengalaman yang lebih banyak, atau banyak pertimbangan dalam setiap langkah. (Masykur, 1994:110).

Dari Mauriel Balson dalam bukunya Becoming a Better Parent yang diterjemahkan oleh Afirin beliau memaparkan : “Membantu anak agar memilih kepercayaan kepada diri sendiri menjadi tugas dan kewajiban orang tua. Kegagalan anak memperoleh kemajuan yang memuaskan dirinya dalam rangka memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya, sekolahnya, pergaulan
dengan sesama teman, dan dengan tetangga mencerminkan rasa takut berbuat sesuatu. Keadaan demikian terjadi karena ia kurang/ tak pernah mendapatkan dorongan semangat di samping tiadanya suasana saling membantu dalam kehidupan keluarga (Maurice Balson, 1996: 84).

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa bagi orang tua sangat memerlukan bekal pendidikan yang cukup agar dalam keluarganya mampu memberikan semangat dan contoh keteladanan yang baik kepada putra putrinya.

Minggu, 21 Oktober 2012

Masalah Kedisiplinan Belajar

Bagi siswa, kegiatan yang paling pokok adalah belajar. Belajar adalah merupakan bagian dari rangkaian kegiatan pendidikan. Prestasi yang dicapai oleh seorang murid adalah hasil dari belajar. Oleh karena itu ketekunan atau kedisiplinan belajar bagi siswa perlu ditanamkan.
1. Pengertian Disiplin
Menurut Soeganda Poerbakawatja disiplin belajar adalah “Suatu tingkat tata tertib tertentu untuk mencapai kondisi yang baik guna memenuhi fungsi pendidikan”. (Soegarda Poerbakawatja, 2000: 151).

Otong Sutrisno berpendapat “Disiplin dalam ketaatan terhadap peraturan dan norma-norma yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dam bernegara yang dilaksanakan secara sadar, ikhlas, lahir dan batin sehingga tumbuh rasa malu untuk melanggar peraturan dan terkena sangsi serta rasa takut terhadap Tuhan Yang Maha Esa”. (Otong Sutrisno, 1987: 97).

Jadi kedisiplinan atau ketekunan sangat menekankan pada ketaatan melaksanakan aturan-aturan yang ada. Dengan ketekunan seorang siswa akan dapat meraih apa yang diharapkan, utamanya adalah dalam belajar, yakni akan memperoleh prestasi yang baik.

2. Ciri-ciri anak yang tekun dalam belajar
Anak yang tekun dalam belajar, maka ia akan mampu menerima, menanggapi serta memahami hal-hal yang disampaikan oleh gurunya. Dalam hal ini penulis akan menyebutkan hal-hal yang perlu diusahakan oleh siswa dalam belajarnya.
a. Memperhatikan dan mendengarkan keterangan guru
b. Rajin mencatat hal-hal yang penting
c. Rajin mengikuti pelajaran
d. Mau mengadakan latihan soal
e. Membuat tanda khusus atau menggarisbawahi pada hal-hal yang penting
f. Membuat ringkasan atau rangkuman
g. Menghafal rumus-rumus
h. Memilih buku-buku yang lengkap
i. Mau bertanya pada bab yang belum jelas
j. Membaca atau mengulang kembali bahan pelajaran
k. Mengerjakan tugas-tugas dari guru
l. Menaati peraturan yang ada di sekolah
Anak yang tekun dalam belajar, ia akan menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Ia juga tidak merelakan waktunya hilang dan berlalu dengan sia-sia. Menurut Edward de Bono dalam bukunya pelajaran berpikir De Bono Belian menyatakan: banyak alasan di belakang penggunaan disiplin waktu ini. Pertama, disiplin waktu membuat berpikir lebih hati-hati dan lebih terpusat. Pemikir menghidupkan pikirannya dan menerapkannya, pemikir langsung berpusat pada pekerjaannya (Edward de Bono, 1990: 180).

Abu Ahmadi menjelaskan bahwa “kebiasaan belajar yang baik, disiplin diri, harus sepagi mungkin kita tanamkan, karena kedua hal ini secara mutlak harus dimiliki oleh anak-anak kita (Abu Ahmadi : 2005: 136)”
Jadi belajar untuk mendapatkan hasil yang baik sesuai dengan yang diharapkan mutlak memerlukan ketekunan. Semakin sering membaca, maka apa yang diingat semakin bertambah. Latihan-latihan yang dilakukan akan membatu memperoleh pengalaman yang baru sehingga akan bertambah pengalaman.

Teori Perkembangan Kognitif Piaget

Perkembangan kognitif sebagian besar ditentukan oleh manipulasi dan interaksi aktif anak dengan lingkungan. Pengetahuan datang dari tindakan. Piaget yakin bahwa pengalaman-pengalaman fisik dan manipulasi lingkungan penting bagi terjadinya perubahan. Sementara itu bahwa interaksi social dengan teman sebaya, khususnya berargumentasi dan berdiskusi membantu memperjelas pemikiran yang pada akhirnya memuat pemikiran itu menjadi lebih logis.

Teori perkembangan Piaget mewakili konstruktivisme yang memandang perkembangan kognitif sebagai suatu proses di mana anak secara aktif membangun sistem makna dan pemahaman realitas melalui pengalaman-pengalaman dan interaksi-interaksi mereka.
Menurut Piaget, setiap individu pada saat tumbuh mulai dari bayi yang baru dilahirkan sampai menginjak usia dewasa mengalami empat tingkat perkembangan kognitif.

Piaget menemukan bahwa penggunaan operasi formal bergantung pada keakraban dengan daerah subjek tertentu. Apabila siswa akrab dengan suatu objek tertentu, lebih besar kemungkinannya menggunakan operasi formal. Menurut Piaget perkembangan kognitif sebagian besar bergantung kepada seberapa jauh anak aktif memanipulasi dan aktif berinteraksi dengan lingkungannya. Berikut ini adalah implikasi penting dalam model pembelajaran dari teori Piaget:
(a) Memusatkan perhatian pada berpikir atau proses mental anak, tidak sekedar pada hasilnya. Disamping kebenaran jawaban siswa, guru harus memahami proses yang digunakan anak sehingga sampai pada jawaban tersebut. Pengamatan belajar yang sesuai dikembangkan dengan memperhatikan tahap kognitif siswa yang mutakhir, dan jika guru penuh perhatian terhadap metode yang digunakan siswa untuk sampai pada kesimpulan tertentu, barulah dapat dikatakan guru berada dalam posisi memberikan pengalaman sesuai dengan yang dimaksud.

(b) Memperhatikan peranan pelik dari inisiatif anak sendiri, keterlibatan aktif dalam kegiatan pembelajaran. Di dalam kelas Piaget, penyajikan pengetahuan jadi (ready-made) tidak mendapat penekanan, melainkan anak didorong menemukan sendiri pengetahuan itu (discovery maupun inquiry) melalui interaksi spontan dengan lingkungannya. Sebab itu guru dituntut mempersiapkan berbagai kegiatan yang memungkinkan anak melakukan kegiatan secara langsung dengan dunia fisik. Menerapkan teori Piaget berarti dalam pembelajaran fisika banyak menggunakan penyelidikan.

(c) Memaklumi akan adanya perbedaan individual dalam hal kemajuan perkembangan. Teori Piaget mengasumsikan bahwa seluruh siswa tumbuh melewati urutan perkembangan yang sama, namun pertumbuhan itu berlangsung pada kecepatan yang berbeda. Sebab itu guru mampu melakukan upaya untuk mengatur kegiatan kelas dalam bentuk kelompok kecil daripada bentuk kelas yang utuh.

Implikasinya dalam proses pembelajaran adalah saat guru memperkenalkan informasi yang melibatkan siswa menggunakan konsep-konsep, memberikan waktu yang cukup untuk menemukan ide-ide dengan menggunakan pola-pola berpikir formal (Trianto, 2008).

Rabu, 17 Oktober 2012

Adilkah Bila Guru yang Disalahkan....?


Ditinjau dari sisi manapun, perbuatan guru yang melakukan kecurangan saat UN berlangsung atau memanipulasi hasil UN adalah salah. Kecurangan itu telah menyalahi peran, tugas dan tanggung jawab guru sebagai pengajar dan pendidik.

Dalam kasus ini, guru telah mengingkari pentingnya nilai kejujuran. Sebagai pendidik, idealnya guru mampu bertugas dan berperan sebagai konservator (pemelihara), transmitor (penerus), transformator (penerjemah) dan organisator (penyelenggara) sistem nilai yang merupakan sumber norma bagi siswa dalam proses menuju kedewasaannya. Tapi adilkah bila semua kesalahan itu hanya ditujukan pada guru?

Bukan hanya siswa yang merasa tertekan dalam menghadapi UN, guru pun demikian, Ada keharusan tak tertulis yang meminta agar guru berhasil melatih siswa dengan baik sehingga mereka berhasil lulus. Tingkat kelulusan suatu sekolah akan berpengaruh terhadap tingkat kelulusan kabupaten/ kota dan berpengaruh pula terhadap capaian kelulusan tingkat propinsi.

Bila siswa berhasil, sukses, pintar, bukan guru yang dipuji dan dipandang berhasil mendidiknya. Siswa berhasil karena siswa itu sendiri memang pintar. Tapi bila siswa gagal, seringkali gurulah yang jadi kambing hitam dan sasaran empuk untuk menimpakan kegagalan itu. Guru dianggap tidak becus mengajar, melatih, memotivasi dan mengubah siswa.

Dari tahun ke tahun, standar kelulusan mengalami peningkatan. Tujuannya tak lain agar kualitas pendidikan pun meningkat pula. Yang jadi pertanyaan adalah percayakah kita pada hasil UN tahun-tahun sebelumya sebagai suatu hasil yang murni sehingga standar kelulusan perlu selalu ditingkatkan? Beberapa guru dari Komunitas Air Mata Guru (KAMG) yang melaporkan kecurangan pada UN 2007 lalu menandakan bahwa UN tahun lalu tidak murni. Tidak mustahil hal serupa juga terjadi di daerah-daerah lain. Hasil UN yang tak menggambarkan hasil sesungguhnya itu pun dijadikan tolok ukur kualitas pendidikan dan ditindaklanjuti dengan menaikan standar nilai kelulusan.

Dalam psikologi, sebuah aksi akan disambut oleh reaksi. Kecurangan dalam UN adalah salah satu reaksi negatif yang dipicu oleh rasa tidak percaya diri. Percaya diri bukan sifat yang bisa tumbuh dengan sendirinya. Percaya diri itu perlu dilatih, ditumbuhkan dan ditopang. Kita tak perlu ragu mengakui bahwa kita belum percaya diri untuk menampilkan dunia pendidikan kita di lingkup ASEAN sekalipun. Bagaimana bisa percaya diri, bila siswa belajar di kelas yang hampir roboh, dengan kondisi gizi yang mengkhawatirkan dan beragam persoalan yang membelit dunia pendidikan kita. Sejatinya, kondisi apapun bukan alasan untuk tak percaya diri. Tapi inilah kenyataannya. Pemerintah tidak bisa begitu saja menyamakan kemampuan siswa di seluruh nusantara dengan kondisi mereka yang berbeda.

Tuntutan pemerintah belum sebanding dengan apa yang dapat mereka berikan. Peningkatan standar nilai kelulusan yang tidak dibarengi dengan peningkatan dukungan standar minimal pendidikan membuat sekolah-sekolah terutama di daerah pinggiran merasa ragu dan tak percaya diri dalam menghadapi UN. Pemerintah pun tak bergeming dengan tuntutan pemenuhan anggaran pendidikan 20 persen dari APBN/APBD, malahan kenyataan pahit harus diterima karena gaji guru dimasukkan ke dalam anggaran hingga tiba-tiba anggaran pendidikan menjadi meningkat. Peningkatan yang semu.

Sekolah itu mahal. Tidak semua orang bisa menempuhnya. Tidak lulus adalah mimpi buruk. Terlebih bagi siswa dari kalangan tak mampu. Inilah alasan beberapa guru di Deli Serdang sehingga melakukan kecurangan saat UN.

Ironis. Para pahlawan tanpa tanda jasa itu digiring ke kantor polisi. Mereka harus mempertanggungjawabkan kesalahan karena bisikan nurani untuk menolong siswa dari ketidakadilan sistem pendidikan kita. Adilkah bila hanya para guru itu yang disalahkan? Sebenarnya mereka juga adalah korban.***