Ombak Laut Sancang
Tampilkan postingan dengan label ALAM KU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ALAM KU. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 16 Maret 2013
Rabu, 30 Januari 2013
Rabu, 28 November 2012
Fanorama Air Terjun
Rabu, 10 Oktober 2012
Pembentukan Hujan
Pembentukan hujan berlangsung dalam tiga tahap. Pertama, "bahan baku"
hujan naik ke udara, lalu awan terbentuk. Akhirnya, curahan hujan
terlihat.
Tahap-tahap ini ditetapkan dengan jelas dalam Al-Qur’an berabad-abad
yang lalu, yang memberikan informasi yang tepat mengenai pembentukan
hujan,
"Dialah Allah Yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan
dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendakiNya, dan
menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat air hujan keluar dari
celah-celahnya; maka, apabila hujan itu turun mengenai hamba-hambaNya
yang dikehendakiNya, tiba-tiba mereka menjadi gembira" (Al Qur'an, 30:48)
Kini, mari kita amati tiga tahap yang disebutkan dalam ayat ini.
TAHAP KE-1: "Dialah Allah Yang mengirimkan angin..."
Gelembung-gelembung udara yang jumlahnya tak terhitung yang dibentuk
dengan pembuihan di lautan, pecah terus-menerus dan menyebabkan
partikel-partikel air tersembur menuju langit. Partikel-partikel ini,
yang kaya akan garam, lalu diangkut oleh angin dan bergerak ke atas di
atmosfir. Partikel-partikel ini, yang disebut aerosol, membentuk awan
dengan mengumpulkan uap air di sekelilingnya, yang naik lagi dari laut,
sebagai titik-titik kecil dengan mekanisme yang disebut "perangkap air".
TAHAP KE-2: “...lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal..."
Awan-awan terbentuk dari uap air yang mengembun di sekeliling
butir-butir garam atau partikel-partikel debu di udara. Karena air hujan
dalam hal ini sangat kecil (dengan diamter antara 0,01 dan 0,02 mm),
awan-awan itu bergantungan di udara dan terbentang di langit. Jadi,
langit ditutupi dengan awan-awan.
TAHAP KE-3: "...lalu kamu lihat air hujan keluar dari celah-celahnya..."
Partikel-partikel air yang mengelilingi butir-butir garam dan partikel
-partikel debu itu mengental dan membentuk air hujan. Jadi, air hujan
ini, yang menjadi lebih berat daripada udara, bertolak dari awan dan
mulai jatuh ke tanah sebagai hujan.
Semua tahap pembentukan hujan telah diceritakan dalam ayat-ayat
Al-Qur’an. Selain itu, tahap-tahap ini dijelaskan dengan urutan yang
benar. Sebagaimana fenomena-fenomena alam lain di bumi, lagi-lagi
Al-Qur’anlah yang menyediakan penjelasan yang paling benar mengenai
fenomena ini dan juga telah mengumumkan fakta-fakta ini kepada
orang-orang pada ribuan tahun sebelum ditemukan oleh ilmu pengetahuan.
Dalam sebuah ayat, informasi tentang proses pembentukan hujan dijelaskan:
"Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan
antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih,
maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah
(juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari
(gumpalan- gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya
(butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan
dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu
hampir-hampir menghilangkan penglihatan." (Al Qur'an, 24:43)
TAHAP - 1, Pergerakan awan oleh angin: Awan-awan dibawa, dengan kata lain, ditiup oleh angin.
TAHAP - 2, Pembentukan awan yang lebih besar: Kemudian awan-awan kecil
(awan kumulus) yang digerakkan angin, saling bergabung dan membentuk
awan yang lebih besar.
TAHAP - 3, Pembentukan awan yang bertumpang tindih: Ketika awan-awan
kecil saling bertemu dan bergabung membentuk awan yang lebih besar,
gerakan udara vertikal ke atas terjadi di dalamnya meningkat. Gerakan
udara vertikal ini lebih kuat di bagian tengah dibandingkan di bagian
tepinya. Gerakan udara ini menyebabkan gumpalan awan tumbuh membesar
secara vertikal, sehingga menyebabkan awan saling bertindih-tindih.
Membesarnya awan secara vertikal ini menyebabkan gumpalan besar awan
tersebut mencapai wilayah-wilayah atmosfir yang bersuhu lebih dingin, di
mana butiran-butiran air dan es mulai terbentuk dan tumbuh semakin
membesar. Ketika butiran air dan es ini telah menjadi berat sehingga tak
lagi mampu ditopang oleh hembusan angin vertikal, mereka mulai lepas
dari awan dan jatuh ke bawah sebagai hujan air, hujan es, dsb. (Anthes,
Richard A.; John J. Cahir; Alistair B. Fraser; and Hans A. Panofsky,
1981, The Atmosphere, s. 269; Millers, Albert; and Jack C. Thompson,
1975, Elements of Meteorology, s. 141-142)
Kita harus ingat bahwa para ahli meteorologi hanya baru-baru ini saja
mengetahui proses pembentukan awan hujan ini secara rinci, beserta
bentuk dan fungsinya, dengan menggunakan peralatan mutakhir seperti
pesawat terbang, satelit, komputer, dsb. Sungguh jelas bahwa Allah telah
memberitahu kita suatu informasi yang tak mungkin dapat diketahui 1400
tahun yang lalu.
Rabu, 03 Oktober 2012
Darimana Asal Pelangi?
Kita ulas lagi yuks asal-usul terbentuknya lengkung indah di langit ini!
Menurut Wikipedia, Pelangi atau bianglala adalah gejala optik dan meteorologi berupa cahaya beraneka warna saling sejajar yang tampak di langit atau medium lainnya. Di langit, pelangi tampak sebagai busur cahaya dengan ujungnya mengarah pada horizon pada suatu saat hujan ringan. Pelangi juga dapat dilihat di sekitar air terjun yang deras.
Kalau dirumuskan, pelangi merupakan hasil pembiasan dan pemantulan sinar matahari oleh butiran-butiran air/hujan. Ketika cahaya matahari melewati butiran air, ia membias seperti ketika menembus prisma kaca dan keluar menjadi spektrum warna. Cahaya berwarna ini dipantulkan dari sisi yang jauh pada tetesan air, kembali dan keluar lagi dari tetesan air. Makanya kita akan bisa melihat pelangi, pada saat hujan atau sesudah hujan, atau di sekitar air terjun. Posisi matahari harus berada di belakang kita.
Mata kita yang sanggup menyerap warna mejikuhibiniu yang dikandung cahaya matahari akan melihatnya menjadi pita besar warna warni membujur di langit. Pita ini terlihat sebagai busur di langit karena terbatasnya sudut pandang mata kita. Kalau dilihat dari tempat tinggi seperti saat kita naik pesawat, pelangi bisa berbentuk satu lingkaran bulat lho!
Pengen bikin pelangi kecilmu sendiri? Coba deh berdiri membelakangi matahari sambil kamu bikin hujan buatan dengan menyemprotkan air dari selang! Pencet selangnya serapat mungkin, biar semprotan airnya kencang dan butir airnya kecil ya. Lihat deh, pasti kamu akan menemukan bias warna-warni!
Kita nikmati yuk berbagai macam rupa pelangi yang kata orang menjadi simbol harapan itu!
Minggu, 22 Juli 2012
Alamku
Pantai Selatan Garut (2) : Karang Sebrotan, Sodong Parat, Cicalobak
| Sunset di Pantai Cicalobak |
Karang Sebrotan
Disebelah barat Karang Tepas terdapat sebuah karang lagi yang oleh warga setempat di sebut Karang Sebrotan, nama Karang Sebrotan di ambil karena ombak yang menghantam karang ini seperti menyemprot ke atas karang.
|
|
|
|
| Rumah Burung Walet |
Dari Karang Sebrotan ke arah barat kita akan melihat satu objek lagi yaitu Sodong Parat. Objek ini merupakan sebuah karang besar dan di bawahnya terdapat lubang yang tembus dari sisi satu ke sisi lainnya atau dalam bahasa sunda biasa di sebut parat.
| View Sodong Parat dari Karang Sebrotan |
|
|
|
|
|
|
| Jalan kembali |
Pantai Cicalobak adalah best spot dalam trip saya kali ini, saya mendapatkan moment view yang sangat indah dari mulai terang, mendung, hujan hingga sunset benar-benar luar biasa, lokasi nya tidak jauh dari Sodong Parat dan berada tepat di samping jalan raya lintas selatan menuju Rancabuaya dari arah Cijayana.
Pantai Cicalobak merupakan teluk kecil dengan batu karang di samping kiri kanan nya, karena menjorok ke darat ombak lautnya tidak terlalu besar dan air nya pun dangkal sehingga relatif aman untuk berenang.
| Garis awan mendung |
| cicalobak |
Langganan:
Postingan (Atom)


